Indikator Mutu Rumah Sakit

10 Jul

Dengan kondisi persaingan yang semakin tinggi antar rumah sakit, setiap rumah sakit saling berpacu untuk memperluas pasarnya. Harapan adanya perluasan pasar secara langsung adalah meningkatnya penjualan sehingga rumah sakit akan memiliki lebih banyak konsumen (pasien). Namun, rumah sakit selaku produsen haruslah memahami bahwa semakin banyak konsumen maka rumah sakit akan semakin sulit memahami konsumennya secara teliti, terutama tentang suka atau tidaknya konsumen terhadap barang dan jasa yang ditawarkan beserta alasan-alasan yang mendasarinya.

Rumah sakit yang mampu bersaing dalam pasar adalah rumah sakit yang mampu menyediakan produk atau jasa berkualitas. Oleh karena itu, rumah sakit dituntut untuk terus melakukan perbaikan terutama pada kualitas pelayanannya. Hal ini dimaksudkan agar seluruh barang atau jasa yang ditawarkan akan mendapat tempat yang baik di mata masyarakat selaku konsumen dan calon konsumen.

Mutu adalah faktor yang mendasar dari pelanggan. Mutu adalah penentuan pelanggan, bukan ketetapan insinyur, pasar atau ketetapan manajemen. Ia berdasarkan atas pengalaman nyata pelanggan terhadap produk dan jasa pelayanan, mengukurnya, mengharapkannya, dijanjikan atau tidak, sadar atau hanya dirasakan, operasional teknik atau subyektif sama sekali dan selalu menggambarkan target yang bergerak dalam pasar yang kompetitif (Wiyono, 1999).

Berikut ini definisi-definisi mutu: Juran menyebutkan bahwa mutu produk adalah kecocokan penggunaan produk untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan; Crosby mendefinisikan mutu adalah conformance to requirement, yaitu sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan; Deming mendefinisikan mutu, bahwa mutu adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar; Feigenbaum mendefinisikan mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya; Garvin dan Davis menyebutkan bahwa mutu adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen.

Mengukur mutu pelayanan kesehatan dimaksudkan untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

1. Dapatkah mutu jasa pelayanan kesehatan diukur ?

2.  Apanya yang diukur ?

3. Bagaimana mutu jasa pelayanan diukur ?

Untuk dapat memahami hal tersebut diatas perlu diketahui tentang pengertian indikator, kriteria, dan standar.

Indikator adalah petunjuk atau tolak ukur, contoh : petunjuk indikator atau tolok ukur status kesehatan antara lain adalah angka kematian ibu, angka kematian bayi, status gizi. Petunjuk atau indikator ini (angka kematian ibu) dapat diukur. Jadi indikator adalah fenomena yang dapat diukur.

Indikator mutu asuhan kesehatan atau pelayanan kesehatan dapat mengacu pada indikator yang relevan berkaitan dengan struktur, proses, dan outcomes. Sebagai contoh, indikator struktur: Tenaga kesehatan profesional (dokter, paramedis, dan sebagainya), Anggaran biaya yang tersedia untuk operasional dan lain-lain, Perlengkapan dan peralatan kedokteran termasuk obat-obatan, Metode berupa adanya standar operasional prosedur masing-masing unit, dan sebagainya; indikator proses berupa memberikan petunjuk tentang pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan, prosedur asuhan yang ditempuh oleh tenaga kesehatan dalam menjalankan tugasnya, Apakah telah sebagaimana mestinya sesuai dengan prosedur, diagnosa, pengobatan, dan penanganan seperti yang seharusnya sesuai standar; indikator outcomes merupakan indikator hasil daripada keadaan sebelumnya, yaitu Input dan Proses seperti BOR, LOS, TOI, dan Indikator klinis lain seperti: Angka Kesembuhan Penyakit, Angka Kematian 48 jam, Angka Infeksi Nosokomial, Komplikasi Perawatan , dan sebagainya.

Selanjutnya Indikator dispesifikasikan dalam berbagai kriteria. Sebagai contoh: Indikator status gizi dapat lebih dispesifikasikan lagi menjadi kriteria tinggi badan, berat badan anak. Untuk pelayanan kesehatan, kriteria ini adalah fenomena yang dapat dihitung.

Setelah kriteria ditentukan dibuatlah standar-standar yang eksak dan dapat dihitung kuantitatif, yang biasanya mencakup hal-hal yang standar baik, misalnya: panjang badan bayi baru lahir yang sehat rata-rata (standarnya) adalah 50 cm; berat badan bayi baru lahir yang sehat standar adalah 3 kg.

Mutu asuhan kesehatan suatu organisasi pelayanan kesehatan dapat diukur dengan memperhatikan atau memantau dan menilai indikator, kriteria, dan standar yang diasumsikan relevan dan berlaku sesuai dengan aspek-aspek struktur, proses, dan outcome dari organisasi pelayanan kesehatan tersebut.

Indikator mutu rumah sakit akan mencerminkan mutu pelayanan dari rumah sakit tersebut. Fungsi dari penetapan indikator tersebut antara lain sebagai alat untuk melaksanakan manajemen kontrol dan alat untuk mendukung pengambilan keputusan dalam rangka perencanaan kegiatan untuk masa yang akan datang. Jenis-jenis Indikator Mutu Pelayanan Rumah Sakit:

  1. Indikator Pelayanan Non Bedah, terdiri dari:
    1. Angka Pasien dengan Dekubitus;
    2. Angka Kejadian Infeksi dengan jarum infus.
    3. Angka Kejadian penyulit/infeksi karena Transfusi Darah.
    4. Angka Ketidak Lengkapan Catatan Medis.
    5. Angka Keterlambatan Pelayanan Pertama Gawat Darurat.
  2. Indikator Pelayanan, yang terdiri dari
    1. Angka Infeksi Luka Operasi.
    2. Angka Komplikasi Pasca Bedah.
    3. Waktu tunggu sebelum operasi  effektif.
    4. Angka Appendik normal.
  3. Indikator Ibu Bersalin dan Bayi, terdiri dari
    1. Angka Kematian Ibu karena Eklampsia Kasus Rujukan dan Bukan Rujukan.
    2. Angka Kematian Ibu karena Perdarahan Kasus Rujukan dan Bukan Rujukan.
    3. Angka Kematian Ibu karena Sepsis Kasus Rujukan dan bukan Rujukan.
    4. Angka Kematian Bayi dengan BB Lahir <= 2000 gram Kasus Rujukan dan Bukan Rujukan.
  4. Indikator Mutu Pelayanan Medis
    1. Angka infeksi nosokomial
    2. Angka kematian kasar (Gross Death Rate)
    3. Kematian pasca bedah
    4. Kematian ibu melahirkan ( Maternal Death Rate-MDR)
    5. Kematian bayi baru lahir (Infant Death Rate-IDR)
    6. NDR (Net Death Rate di atas 48 jam)
    7. ADR (Anasthesia Death Rate)
    8. PODR (Post Operation Death Rate)
    9. POIR (Post Operative Infection Rate)
  5. Indikator mutu pelayanan untuk mengukur tingkat efisiensi RS
  6. Unit cost untuk rawat jalan
    1. Indikator mutu yang berkaitan dengan tingkat kepuasan pasien
    2. Jumlah keluhan dari pasien/keluarganya
      1. Indikator cakupan pelayanan sebuah RS terdiri dari
      2. Jumlah dan pesentase kunjungan rawat jalan/inap menurut jarak PS dengan asal pasien
        1. Jumlah pelayanan dan tindakan medik
        2. Jumlah tindakan pembedahan
        3. Jumlah kunjungan SMF spesialis
        4. Pemfaatan oleh masyarakat
        5. Contact rate
        6. Hospitalization rate
        7. Out patient rate
        8. Emergency out patient rate
  7. Indikator mutu yang mengacu pada keselamatan pasien
  8. Indikator tambahan
  9. Angka Kematian di IGD (IGD).
  10. Angka Perawatan Ulang (Rekam Medis).
  11. Angka Infeksi RS.
  12. Reject Analisis (Radiologi).
  13. Angka Ketidaksesuaian Penulisan Diet (Gizi).
  14. Angka Keterlambatan waktu pemberian makan (Gizi).
  15. Angka Kesalahan Pembacaan Hasil (laboratorium).
  16. Angka Waktu Penyelesain Resep (Farmasi).
  17. Angka Kesalahan Pemberian Obat (Farmasi).
  18. Angka Banyaknya Resep yang Tidak Terlayani (Farmasi).
  1. Jumlah penderita yang mengalami dekubitus
  2. Jumlah penderita yang jatuh dari tempat tidur
  3. BOR (Bed Occupancy Rate)
  4. BTO (Bed Turn Over)
  5. TOI (Turn Over Interval)
  6. ALOS (Average Length of Stay)
  7. Normal Tissue Removal Rate
  1. Surat pembaca di koran
  2. Surat kaleng
  3. Surat masuk dari kotak saran, dan sebagainya
  4. Survei tingkat kepuasan pengguna pelayanan kesehatan RS
  1. Pasien terjatuh dari tempat tidur/kamar mandi
  2. Pasien diberi obat yang salah
  3. Tidak ada obat/alat emergensi
  4. Tidak ada oksigen
  5. Tidak ada alat penyedot lendir
  6. Tidak tersedia alat pemadam kebakaran
  7. Pemakaian obat tidak sesuai standar
  8. Pemakaian air, listrik, gas, dan sebagainya.

Mutu pelayanan medis dan kesehatan di RS sangat erat kaitannya dengan manajemen RS (quality of services) dan keprofesionalan kinerja SMF dan staf lainnya di RS (quality of care). Keduanya merupakan oucome dari manajemen manjaga mutu di RS (quality assurance) yang dilaksanakan oleh gugus kendali mutu RS. Dalam hal ini, gugus kendali mutu dapat ditugaskan kepada komite medik RS karena mereka adalah staf fungsional (nonstruktural) yang membantu direktur RS dengan melibatkan semua staf SMF RS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: